Mempersiapkan Anak Belajar Membaca Tanpa Menghafal Huruf dan Mengeja

Tahukah sobat, bahwa untuk mengajarkan anak membaca tidak harus dengan menghafalkan huruf dan mengeja? Banyak fakta temuan di lapangan yang membuktikan, mengajarkan membaca dengan menghafalkan huruf abjad terlebih dahulu dan mengejanya malah menyulitkan anak. Hal ini disebabkan karena ketika mengeja, anak harus menghafalkan dan mampu membedakan ke duapuluh enam bentuk huruf abjad yang berbeda. Dan hal tersebut tidaklah mudah, jumlah huruf abjad tersebut terlalu banyak untuk dihafalkan baik untuk anak yang memiliki kemampuan normal apalagi anak – anak yang memiliki kebutuhan khusus seperti halnya disleksia.

Kebanyakan anak akan sulit membedakan huruf – huruf tertentu, terutama yang memiliki bentuk hampir sama, seperti b dan d, p dan q. Alih – alih anak menjadi hafal huruf, justru anak semakin bingung membedakan huruf – huruf yang pada akhirnya belajar membaca menjadi tekanan dan tidak menyenangkan ditambah seringkali ketika anak tidak juga mampu, orang tua ataupun pendidik yang membimbing terpancing emosinya sehingga semakin tertekanlah anak dalam belajar membaca. Kondisi ini akan melahirkan situasi belajar yang tidak nyaman dan kondusif untuk anak.

Lalu bagaimana solusi atau cara yang menyenangkan untuk mengajarkan anak membaca tanpa menghafalkan huruf dan mengejanya? Berikut beberapa tahapannya:.

 

1.      Melakukan stimulus sensori – motorik pada anak

Proses belajar membaca ternyata bukanlah proses yang sederhana, yang ketika kita mengenalkan huruf abjad, anak – anak akan langsung bisa merangkainya dan membacanya. Proses belajar membaca adalah proses yang kompleks dan panjang yang dimulai dari pra-membaca hingga teknis membaca.

Proses stimulus sensori – motoric inilah yang menjadi kunci awal dalam proses belajar membaca anak. Proses ini bisa dilakukan sejak awal, ketika anak masih berada dalam kandungan. Kegiatan membacakan buku pada si janin saat masa kehamilan, mengajak komunikasi janin, ataupun memberikan sentuhan pada perut ibu saat hamil bisa memberikan stimulus yang akan merangsang perkembangan sensori – motoric pada anak.

 

2.     Pastikan anak tuntas tahap pra-membaca dan pra-menulis

Banyak hal yang bisa orang tua dan pendidik lakukan bersama anak pada tahap pra-membaca dan pra-menulis, tidak harus dengan mengenalkan huruf ataupun kegiatan yang berhubungan dengan kertas dan pensil. Orang tua ataupun pendidik bisa menyusun kegiatan – kegiatan yang menstimulus dan mematangkan sensori – motoriknya. Contohnya kegiatan meronce, mewarnai, bermain plastisin, menggambar, menggunting atau juga bisa menempelkan gambar. Kegiatan eksplorasi lingkungan juga bisa dilakukan untuk tahap ini.

Buat kegiatan yang menyenangkan anak dan membuat anak menggunakan seluruh inderanya, sehingga sensori – motoriknya semakin berkembang secara matang.

 

3.     Mengenalkan bunyi huruf/fonik

Kenalkan bunyi hurufnya bukan nama hurufnya, kenapa demikian? Karena bunyi dan nama huruf berbeda, ketika kita membaca sebenarnya yang kita lakukan adalah membunyikan hurufnya bukan membunyikan nama hurufnya. Seperti huruf b, bunyinya bukan “be” tapi “eb”; huruf c bukan “ce” tapi “ec”; dan seterusnya.

Mengenalkan bunyi huruf bisa orang tua dan pendidik lakukan melalui berbagai kegiatan keseharian, seperti saat bernyanyi, bermain, dan berkomunikasi.

 

4.    Gunakan media gambar atau visual yang menarik

Untuk menarik atensi anak dan menjadikannya tidak mudah bosan, orang tua dan pendidik perlu menyiapkan media belajar dengan visual atau tampilan yang menarik dalam tahap pra-membaca dan pra-menulis anak. Menggunakan flash card, permainan tradisional, board games ataupun worksheet yang menarik dapat membantu dalam proses belajar anak. Selain itu, orang tua dan pendidik dapat menyesuaikan teknik belajarnya dengan gaya belajar anak. Jika ia adalah tipe kinestetik misalnya, maka media atau permainan yang mengarah ke pengoptimalan fisik akan lebih diminati oleh anak.

 

5.    Gunakan media jembatan untuk sesuatu yang konkret ke yang abstrak

Salah satu media jembatan yang bisa orang tua dan pendidik buat adalah ketika mengenalkan benda – benda yang ada di sekeliling dapat menggunakan media gambar atau visual yang menarik kemudian menambahkan tulisan nama dari benda tersebut. Contoh, ada gambar sepatu kemudian di bawahnya kita tambahkan tulisan “sepatu”. Cara ini dapat membantu anak untuk menambah kosa katanya, sekaligus mengenalkan dan memahamkan objek – objek yang mungkin sulit  dijumpai di lingkungan sekitar anak.

 

6.    Read aloud atau membaca nyaring bersama anak

Read aloud adalah membacakan buku cerita kepada anak secara nyaring. Read aloud atau membaca nyaring bersama anak bisa dilakukan kapan saja dan di mana saja. Bisa dilakukan saat anak akan tidur, saat berkendara, atau pada saat story morning di kelas. Sejumlah penelitian juga telah membuktikan, bahwa read aloud memiliki banyak manfaat bagi anak dan bahkan orang tuanya. Diantaranya semakin meningkatkan bonding atau hubungan anak dan orang tua, meningkatkan budaya literasi anak, meningkatkan kemampuan mendengar dan menyimak anak, menambah kosa kata yang dimiliki anak hingga menumbuhkan minat baca pada anak, dan masih banyak lagi. Dengan banyaknya manfaat ini, adalah suatu kerugian jika orang tua ataupun pendidik tidak melakukannya. Read aloud bisa menjadi bekal awal juga bagi anak dalam proses belajar membaca.

 

Demikian beberapa tahapan yang bisa mulai orang tua dan pendidik lakukan dalam mempersiapkan proses belajar membaca anak. Di luar beberapa tahapan di atas, masih banyak yang bisa orang tua dan pendidik lakukan lagi. Intinya, proses belajar membaca adalah proses yang panjang bagi anak, orang tua dan pendidik perlu menyiapkan pondasi awal agar anak tidak mudah ‘kapok’ ketika belajar membaca. Situasi belajar yang nyaman dan kesiapan anak dalam belajar adalah factor yang perlu kita perhatikan. Penuhi kebutuhan dan tumbuh kembangnya, berikan stimulus yang tepat yang mematangkan sensori – motoriknya, hingga meningkatnya kemampuan membaca anak akan mengiringinya, sebagai bonus atas tahapan – tahapan proses belajar yang sudah dilalui anak.

Komentar

Postingan Populer